Header Ads

LightBlog

Hang Tuah Dan Budaya Melayu Jawa


HIKAYAT Hang Tuah adalah sebuah maha karya monumental lagi legendaris. Hikayat ini merupakan sastra Melayu klasik terpanjang yang pernah ada, dengan tebal sekitar 500 halaman. Dalam bunga rampai sastra Melayu lama, cerita dalam Hikayat Hang Tuah selalu menjadi referensi sebagai contoh cerita lama. Selain itu, tidak kurang dari 20 buah salinan naskahnya tersimpan di berbagai perpustakaan di seluruh dunia. Ini adalah sebuah pembuktian bahwa Hikayat Hang Tuah pada masanya merupakan cerita yang sangat digemari masyarakat.

Cerita Hang Tuah sudah dikenal sejak abad ke-18, dan sejak saat itu cerita rakyat Melayu ini mulai menarik perhatian pakar-pakar sastra dari seluruh penjuru bumi, terlebih lagi pada abad ke-20, di mana ahli-ahli dari Barat dan Timur mulai intensif untuk melakukan penelitian mendalam terhadap Hikayat Hang Tuah. Kendati Hikayat Hang Tuah merupakan cerita rakyat dari Melayu, namun ternyata isi ceritanya cukup meluas dan membumi. Diantaranya adalah beberapa segmen yang mengisahkan tentang Jawa. Maka tak heran jika cerita Melayu ini sedikit banyak juga dipengaruhi unsur-unsur budaya Jawa.

Kisaran kisah dalam Hikayat Hang Tuah sepantaran dengan masa jaya Majapahit, yakni pada era Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gadjah Mada. Oleh karena itu, banyak penggalan cerita yang mengisahkan hubungan Malaka dengan kerajaan Jawa itu. Hang Tuah terbagi dalam 6 kisah, yakni: Asal-usul Raja Malaka, asal-usul Hang Tuah, dan Permulaan Pengabdiannya di Malaka (115 halaman); Perjalanan Luar Negeri/Negeri Tetangga (127 halaman); Tanah Melayu (187 halaman); Episode Majapahit (160 halaman); Malaka Runtuh (3 halaman); Hang Tuah Tidak Mati (1 halaman).

Dari tabulasi topik di atas terlihat jelas bahwa porsi Episode Majapahit menduduki peringkat kedua terbanyak yakni sebanyak 160 halaman, setelah pembahasan tentang Tanah Melayu (187 halaman). Dengan komposisi yang demikian, tak dapat dielakkan lagi adanya pengaruh budaya Jawa dalam jalan cerita Hang Tuah. Adapun beberapa praktek “Jawanisasi” dalam sastra Melayu Lama ini dapat diikuti dalam penjabaran sebagai berikut:

Hubungan Malaka dengan Jawa telah termuat dalam ramalan Melayu, bahwa seorang anak laki-laki Raja Bukit Seguntang (Malaka) akan menjadi raja Jawa. Hubungan dua kerajaan besar ini diawali dengan kedatangan Patih Kerma Wijaya dari Lasem yang bertujuan untuk mengabdi kepada Raja Melayu. Ini adalah pembuktian awal tentang pengakuan Jawa terhadap Melayu. Hubungan keduanya lantas diperkuat oleh Raden Inu dari Daha yang mengembara ke tanah Melayu untuk mencari saudaranya. Perkembangan yang terjadi selanjutnya adalah Raden Inu turut membantu Hang Tuah dalam membangun kota Malaka di Pulau Ledang. Atas perannya ini, Raden Inu kemudian diberi gelar sebagai Ratu Melayu. Hal ini pun berarti bahwa dari pihak Jawa ada dukungan terhadap pendirian kota Malaka.

Raja Malaka pun sudah 2 kali datang ke Majapahit, namun tak sekalipun Raja Majapahit melakukan kunjungan balasan ke Malaka. Sikap seperti ini merupakan sebuah indikasi bahwa Majapahit masih mengklaim dirinya sebagai kerajaan terbesar di Nusantara, yang tidak bisa begitu saja melayani kerajaan-kerajaan lainnya.

Hubungan Melayu dan Jawa, hingga pada era permusuhan keduanya, dijabarkan dalam topik “Episode Majapahit”. Hang Tuah dengan cerdiknya menjalin hubungan yang begitu intim dengan Kerajaan Majapahit, sehingga pertemuan budaya Melayu dan Jawa tidak dapat dihindari. Terjadilah akulturasi antara dua cabang budaya yang berlainan itu. Tentu saja di sini pengaruh Jawa-lah yang terkuat, karena memang pada saat itu arus Jawanisasi yang diusung Gadjah Mada lewat Sumpah Amukti Palapa-nya sedang berjalan sedemikian giatnya.

Hang Tuah memang seorang cerdik pandai. Perlahan pasti ia mulai mendapat tempat di hati Raja Majapahit. Sembari menunggu kelemahan Majapahit, ia menyusun rencana untuk meluaskan pengaruh Malaka di Jawa. Salah satunya adalah dengan mengantarkan Raden Bahar, calon raja Melayu, ke Majapahit untuk dilantik menjadi raja oleh Gadjah Mada. Saat itu, Majapahit sedang menuai keruntuhannya akibat kedatangan Islam ke Nusantara. Melalui pengabdian baktinya kepada Raja Malaka yang dilantik Gadjah Mada, Hang Tuah berhasil meluaskan sayap Malaka sampai ke Majapahit. (Iswara N Raditya)

No comments

Galeri

Di bawah ini adalah galeri imej dari semua posts yang tersaji di blog ini. Selain sebagai galeri, panel ini juga berfungsi sebagai jalan pintas untuk mengakses semua post, cukup dengan satu klik pada masing-masing imej. Scroll-down untuk melihat seluruh posts, atau pilih kategori post berdasarkan tombol-tombol pilihan yang tersedia. Semoga bermanfaat!