Header Ads

LightBlog

Hikayat Raja Pasai

Dalam sejarah sastra Islam di nusantara Hikayat Raja Pasai (selanjutnya disingkat menjadi HRP) merupakan karya sastra bersifat sejarah yang tertua. Dalam naskah ini diceritakan peristiwa-peristiwa yang terjadi antara tahun 1250–1350 M. Zaman ini adalah masa pemerintahan raja Mirah Silu yang kemudian masuk agama Islam dan menggantikan namanya dengan Malikul Saleh—seorang peneliti masalah Melayu W.O.Winstedt menyebutkan HRP adalah teks tertua yang ditulis sebelum tahun 1534 M. Setahu saya HRP merupakan satu-satunya peninggalan sejarah Melayu zaman Kerajaan Pasai yang ditemukan sampai saat ini.

Jika kita tinjau dari segi isi maka karya sastra ini dapat kita golongkan sebagai hikayat historical dan mythological. Pada awal HRP ini langsung dijelaskan oleh pengarang bahwa raja Melayu pertama masuk Islam adalah Raja Pasai. Hal ini merupakan bukti sejarah bahwa di Kerajaan Pasailah Islam pertama masuk baru kemudian menyebar ke seluruh nusantara; alkisah peri menyatakan ceritera raja yang pertama masuk agama Islam ini Pasai. Maka ada diceriterakan oleh orang yang empunya ceritera ini, negeri yang dibawah angin ini Pasailah yang membawa iman akan Allah dan akan Rasul Allah.

Memang salah satu ciri sastra Melayu lama tidak lepas dari mitos namun hal ini tidak akan mengurangi nilai-nilai sejarah yang terkandung di dalamnya—secara teoritis. Mitos dalam HRP merupakan suatu jalinan cerita yang menyatu dengan nilai-nilai lain sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh. Saling mempererat dan menambah nilai estetika. Adapun mitos yang menonjol adalah Merah Silu menahan lukah dan kena gelang-gelang yang direbusnya. Gelang-gelang itu menjadi emas dan buihnya menjadi perak…./ Merah Silu naik ke atas tanah tinggi itu maka dilihatnya semut sebesar kucing lalu dimakannya…/ Selain itu, mitos bercampur dengan sejarah dapat dilihat pada penceritaan masuknya agama Islam; Rasulullah beginda bersabda pada segala sahabat, pada akhir zaman ada sebuah negeri di bawah angin, Samudera namanya. Apabila kamu dengar khabar negeri itu maka segera kamu pergi ke sana dan bawa isi negeri itu masuk Islam—tidak satupun referensi yang mendukung kebenaran teks—dalam Islam sabda Rasullulah diriwayatkan dalam bentuk hadits. Adapun kesucian negeri Samudera dilukiskan dengan Di negeri itu banyak wali Allah akan jadi; seorang fakir Ma’abari perlu dibawa. Sedangkan sejarah perjalanan Islam sehingga sampai di Samudera Pasai serta tokoh-tokoh yang menyebarkannya dapat dirunut dengan jelas; Syarif Mekah mengirim Syaikh Ismail dengan sebuah kapal dan segala perkakas kerajaan berlayar dan ia singgah di Ma’abari. Setelah sampai di Ma’abari, Syaikh Ismail berlabuh. Raja negeri, Sultan Muhammad, anak-cucu Abubakar as-Sidik, merajakan anaknya, memakai pakaian fakir dan ikut dengan kapal menuju Samudera. Pada mulanya mereka sampai di Fansur dan mengislamkan rakyat di sana. Kemudian mereka sampai di Lamiri dan rakyat di sanapun diislamkan. Sesudah itu mereka berlayar lagi dan sesampai di Haru mereka Islamkan orang di sana. Ketika mereka bertanya dimana negeri Samudera, dijawab mereka telah lalu serta mereka balik kembali. Sesampai di Perlak mereka Islamkan pula orang di sana dan akhirnya mereka tiba di Samudera. Selanjutnya HRP menceritakan pengislaman Merah Silu serta pengangkatan dirinya menjadi raja. Setelah masuk Islam namanya diganti dengan Sultan Malikul Saleh; setelah sampai di Samudera, Merah Silu diislamkan. Sesudah itu ia bermimpi Rasulullah menyuruh ngangakan mulutnya dan meludahi ke dalamnya. Ketika terjaga diciumnya tubuhnya berbau narwastu. Setelah siang fakir naik ke darat membawa perkakas kerajaan dan Merah Silu dinamai Sultan Malikul-Saleh. …

Kalau kita simak peristiwa dalam HRP ini merupakan satu perjalanan sejarah panjang dan kompleks serta mendetail. Sangat jarang kita temui karya sastra sejarah seperti ini di nusantara yang mencerita suatu peristiwa secara tuntas dan runut. Pada babak awal dikisahkan asal mula Merah Silu serta nama Samudera Pasai; ada Merah dua bersaudara diam dekat Pasangan. Asal mereka dari Gunung Sanggung, yang tua Merah Caga namanya, yang muda Merah Silu…./ . Pada suatu hari Merah Silu pergi berburu dengan anjingnya Si Pasai yang menyalak tanah tinggi. Merah Silu naik ke atas tanah tinggi itu maka dilihatnya semut sebesar kucing lalu dimakannya. Pada tempat itu dibuatnya negeri yang dinamai Samudera, artinya semut besar.

Selain hal di atas, HRP juga menceritakan mengenai unsur-unsur legalisasi susunan keluarga yang memerintah, menyatakan asal-usul yang sakral keluarga tersebut serta konflik yang terjadi antar mereka. Sepanjang cerita dalam HRP selalu temui konflik mulai dari awal hingga akhir cerita. Pada bagian awal konflik dimulai dengan suasana yang menegangkan, yaitu kecemburuan Merah Caga terhadap adiknya Merah Silu. Hal ini disebabkan karena Merah Silu menahan lukah dan mendapat gelang-gelang emas; Terdengar pada Merah Caga bahwa Merah Silu makan gelang-gelang, lalu ia marah hendak membunuh adiknya. Mendengar ini Merah Silu lari ke Rimba Jerun. Merah Silu mengemasi orang di sana dan mereka mengikut katanya. Kemudian konflik antar keluarga kerajaan terus berlanjut pada generasi berikutnya; demikian halnya dengan Sultan Malikul-Mansur yang merampas gundik abangnya, demikian pula halnya dengan Sultan Ahmad yang cemburu terhadap putera-puteranya dan oleh sebab itu membunuh mereka. Pada satu sisi konflik ini mempunyai fungsi didaktik. Raja yang zalim akan mendapatkan hukuman, negerinya musnah. Selain konflik antar sesama keluarga, Kerajaan Samudera Pasai juga mendapat serangan dari Kerajaan Majapahit—riwayat Putri Gemerincang, Putri Raja Majapahit yang jatuh cinta pada Tun Abdul Jalil, Putra Sultan Ahmad, dan Pasai dikalahkan oleh Majapahit.

Mungkin karena faktor-faktor di atas, A.H. Hill (1960)—seorang peneliti tentang kebudayaan Melayu yang berkebangsaan Eropa membagi HRP dalam tiga bagian; (1) Dari awal sejarah Pasai hingga dengan disebut Sultan Malikul Mahmud dan naiknya taktah Sultan Ahmad. (2) Kerajaan Sultan Ahmad dan riwayat putra Tun Beraim Bapa. (3) Riwayat Putri Gemerincang, Putri Raja Majapahit yang jatuh cinta pada Tun Abdul Jalil, Putra Sultan Ahmat, dan Pasai dikalahkan oleh Majapahit.

Teuku Iskandar dalam bukunya Kesusastraan Melayu Sepanjang Abad (1996) mengatakan kalau ditinjau dari isi maupun susunan tifografinya HRP mempunyai persamaan-persamaan yang menyolok dalam pokok pembicaraan serta susunan ayatnya dengan Sejarah Melayu. HRP versi panjang diwakili oleh Raffles MS 67. Teks naskah ini diterbitkan dalam huruf Jawi oleh Edouard Dulaurier (Paris 1849) dan kemudian (1871). Terjemahan yang lengkap dibuat oleh Aristide Marre (1874). Teks ini kemudiannya dirumikan oleh P.J.Meat (1914) dan oleh A.H.Hill (1960).


Dari: Gemasastrin.Wordpress



No comments

Galeri

Di bawah ini adalah galeri imej dari semua posts yang tersaji di blog ini. Selain sebagai galeri, panel ini juga berfungsi sebagai jalan pintas untuk mengakses semua post, cukup dengan satu klik pada masing-masing imej. Scroll-down untuk melihat seluruh posts, atau pilih kategori post berdasarkan tombol-tombol pilihan yang tersedia. Semoga bermanfaat!